ABSTRAK PENELITIAN

ELIS. “Perbedaan perkembangan psikomotorik anak usia 1-3 tahun yang diasuh di tempat penitipan anak Graha Asih Anak dan diasuh oleh ibu di Mejing Wetan Gamping Sleman Yogyakarta”.

Latar Belakang: perkembangan psikomotorik anak merupakan bagian yang sangat penting di usia balita atau sering di sebut usia emas, karena pada usia ini anakmembutuhkanrangsangan yang tepatuntukmencapaikematangan optimal, sehinggapengasuhan sangatlah penting untuk di perhatikan.

Tujuan: mengetahui perbedaan perkembangan psikomotorik anak usia 1-3 tahun antara anak yang diasuh di TPA dan diasuh oleh ibudi rumah.

Metode: jenis studi komparasi, populasi anak usia 1-3 tahun diasuh di TPA Graha Asih Anak dan anak diasuh oleh ibu di rumah berjumlah 59 anak. Sampel terdiri dari 35 anak diantaranya terdiri dari 19 anak diasuh di TPA dan 16 anak diasuh oleh ibu dirumah. Tehnik pengambilan sampel berjenis purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan lembar Denver Development Screening Test II. Uji statistik yang digunakan adalah Mann-Whitey U-Test.

Hasil: uji Mann-WhiteyU-Test menunjukkanp=0,056, sehingga tidak ada perbedaan perkembangan psikomotorik anak usia 1-3 tahun yang diasuh di TPA dan diasuh oleh ibu di rumah.

Kesimpulan: tidak ada perbedaan perkembangan psikomotorik anak usia 1-3 tahun yang diasuh di TPA Graha Asih Anak dan yang diasuh oleh ibu di Mejing Wetan.

Saran: peneliti lain diharapkan mampu menangani hasil DDST II kategori untestable terutama pada anak yang diasuh oleh ibu.

Kata kunci: perkembangan psikomotorik anak – DDST II – pengasuhan

Xix + 95 hal+ 8 lampiran + 12 tabel + 10 gambar

Kepustakaan: 37, 2000-2013.

PENGATURAN SUHU TUBUH

1.    Mekanisme Pengaturan suhu tubuh
Suhu tubuh diatur oleh hipotalamus yang terletak diantara dua hemisfer otak. Fungsi hipotalamus adalah seperti termostaImagert. Suhu yang nyaman merupakan set point untuk operasi system pemanas. Penurunan suhu lingkungan akan mengaktifkan pemanas, sedangkan peningkatan suhu akan mematikan system pemanas tersebut. Pada umumnya penjalaran sinyal suhu hampir selalu sejajar, namun tidak persis sama seperti sinyal nyeri. Sewaktu memasuki medulla spinalis, sinyal akan menjalar dalam traktus lissaueri sebanyak beberapa segmen diatas atau dibawah dan selanjutnya akan berakhir terutama pada lamina I, II, III radiks dorsalis sama seperti untuk rasa nyeri. Sesudah ada percabangan satu atau lebih neuron dalam medulla spinalis maka sinyal akan menjalarkan keserabut termal asenden yang menyilang ke traktus sensorik anterolateral sesi berlawanan dan akan berakhir di (1) area reticular batang otak dan (2) kompleks vetro basal thalamus. Setelah dari thalamus sinyal di hantarkan ke hipotalamus. Dihipotalamus mengandung dua pusat pengaturan suhu. Hipotalamus bagian anterior berespon terhadap peningkatan suhu dengan menyebabkan vasodilatasi dan karenanya panas menguap. Sedangkan hipotalamus bagian posterior berespon terhadap penurunan suhu dengan menyebabkan vasokontriksi dan mengaktivasi pembentukan panas lebih lanjut.
 
2.    Antomi Fisiologi yang terkait
Suhu diatur oleh sistem syaraf dan sistem endokrin
a.    Sistem syaraf
1)    Pemanasan dan pendinginan kulit menstimulasi ujung syaraf yang sensitif terhadap suhu dengan menghasilkan respon yang tepat – menggigil untuk kedinginan, berkeringat untuk kepanasan.
2)    Hipotalamus pada otak berespon terhadap suhu dari darah yang mengalir melewati kapiler-kapiler nya. Hipotalamus mengadung 2 pusat pengaturan suhu. Hipotalamus bagian anterior berespon terhadap peningkatan suhu dengan menyebabkan vasoladitasi dan karena nya panas menguap. Hipotalamus bagian posterior berespon terhadap penurunan suhu dengan menyebabkan vasokontriksi dan mengaktivasi pembentukan panas lebih lanjut. Melalui hubungan dengan otak tersebut, hipotalamus menerima stimulus dari talamus dan dapat melewati sistem syaraf otonom memodifikasi aktivitas humoner, sekresi keringat aktivitas kelenjar dan otot-otot.
b.    Sistem Endokrin
1)    Medula adrenal : dingin meningkatkan sekresi adrenalin yang menstimulasi metabolisme dan karena nya dapat meningkatkan pembentukan panas.
2)    Kelenjar tyroid : dingin meningkatkan sekresi tiroksin, dengan meningkatkan metabolisme dan pembentukan panas.  

3.    Produksi Panas dan Kehilangan Panas Tubuh
a.    Produksi panas
Termoregulasi bergantung pada fungsi normal dari proses produksi panas. Panas yang dihasilkan tubuh adalah hasil sampingan metabolisme yaitu reaksi kimia dalam seluruh sel tubuh. Makanan merupakan sumber utama bahan bakar untuk metabolisme. Aktivitas yang memburuhkan reaksi kimia tambahan akan meningkatkan laju metabolic yang juga akan menambah produksi panas. Saat metabolism menurun, panas yang dihasilkan juga lebih sedikit. Produksi panas terjadi saat intirahat, gerakan volunter dan termogenesis tanpa mengigil.
1)    Metabolism basal berperan terhadap panas yang dihasilkan oleh tubuh saat istirahat total. Laju metabolism basal atau basal metabolic rate (BMR) biasanya bergantung pada area permukaan tubuh. BMR juga dipengaruhi oleh hormone tiroid. Dengan merangsang penguraian glukosa dan lemak, hormone tiroid meningkatkan reaksi kimia dalam sel tubuh. Saat hormone tiroid disekresikan dalam jumlah besar, BMR dapat meningkat 100%. Ketiadaan hormone tiroid akan menurunkan BMR menjadi setengahnya, sehingga terjadi pengurangan produksi panas. Hormen seks testoteron meningkatkan BMR sehingga pria memiliki BMR yang lebih tinggi dari pada wanita.
2)    Gerakan volunter sperti aktivitas otot pada olahraga membutuhkan energi tambahan. Laju metabolic meningkat saat aktivitas, terkadang meningkatkan produksi panas hingga 50 kali lipat.
3)    Menginggil adalah respon tubuh involunter terhadap perbedaan suhu dalam tubuh. Gerakan otot lurik saat menginggil membutuhkan energi yang cukup besar. Menginggil menghasilkan produksi panas 4 sampai 5 kali lipat dari normal. Panas ini akan membantu menyeimbangkan suhu tubuh sehingga menginggil akan berhenti.
4)    Termogenesis tanpa mengigil terjadi pada neonatus. Neonatus tidak dapat mengigil sehingga jaringan coklat vasukuler yang ada saat lahir dimetabolisme untuk produksi panas. Jaringan tersebut sangat terbatas jumlahnya.
b.    Kehilangan panas tubuh
Struktur kulit dan pajanan terhadap lingkungan mengakibatkan kehilangan panas normal yang konstan melalui radiasi, konduksi, konveksi, dan evaporasi.
1)    Radiasi adalah transfer panas dari permikaan suatu objek ke permukaan objek lainnya tanpa kontak langsung antara keduanya. Panas pada 80% area luas permukaan tubuh diradiasikan ke lingkungan.
2)    Konduksi adalah transfer panas dari dan melalui kontak langsung antara dua objek. Benda padat, cair dan gas mengonduksikan panas melalui kontak. Saat kulit yang hangat menyantuh objek yang lebih dingin, panas akan hilang.
3)    Konveksi adalah transfer panas melalui garakan udara, contohnya adalah kipas angin. Kehilangan panas konveksi meningkat jika kulit yang lembab terpapar dengan udara yang bergerak.
4)    Evaporasi adalah transfer energy panas saat cairan berubah menjadi gas. Tubuh kehilangan panas secara continue melalui evaporasi. Sekitar 600-900 cc air tiap harinya menguap dari kulit dan paru-paru sehingga terjadi kehilangan air dan panas.

4.    Hal-hal yang mempengaruhi Suhu Tubuh
a.    Usia
Pada bayi dan balita belum terjadi kematangan mekanisme pengaturan suhu sehingga dapat terjadi perubahan suhu tubuh yang drastis terhadap lingkungan. Pastikan mereka mengenakan yang cukup dan hindari pajanan terhadap suhu lingkungan. Seorang bayi baru lahir dapat kehilangan 30 % panas tubuh melalui kepala sehingga dia harus menggunakan tutup kepala untuk mencegah kehilangan panas. Suhu tubuh bayi lahir berkisar antara 35,5˚C sampai 37,5˚C.Regulasi tubuh baru mencapai kestabilan saat pubertas. Suhu normal akan terus menerus menurun saat seseorang semakin tua. Para dewasa tua memiliki kisaran suhu tubuh yang lebih kecil dibandingkan dewasa muda.

b.    Olahraga
Aktivitas otot membutuhkan lebih banyak darah serta peningkatan pemecahan karbonhidrat dan lemak. Berbagai bentuk olahraga meningkatkan metabolisme dan dapat meningkatkan produksi panas sehingga terjadi peningkatan suhu tubuh. Olahraga berat yang lama seperti jalan jauh dapat meningkatkan suhu tubuh sampai 41 C.
c.    Kadar Hormon
Umumnya wanita mengalami fluktuasi suhu tubuh yang lebih besar. Hal ini dikarenakan adanya variasi hormonal saat siklus menstruasi. Kadar progesteron naik dan turun sesuai siklus menstruasi. Saat progesterion rendah suhu tubuh dibawah suhu dasar, yaitu sekitar 1/10”nya. Suhu ini bertahan sampai terjadi ovulasi. Saat ovulasi, kadar progesteron yang memasuki sirkulasi akan meningkat dan menaikan suhu tubuh ke suhu dasar atau suhu yang lebih tinggi. Variasi suhu ini dapat membantu mendeteksi masa subur seorang wanita. Perubahan suhu tubuh juga terjadi pada wanita saat menopause. Mereka biasanya mengalami periode panas tubuh yang intens dan perspirasi selama 30 detik sampai 5 menit. Pada periode ini terjadi peningkatan suhu tubuh sementara sebanyak 4 C, yang sering disebut hotflases. Hal ini diakibatkan ketidakstabilan pengaturan fasomor.
d.    Irama sircadian
Suhu tubuh yang normal berubah 0,5 sampai 1 C selama periode 24 jam. Suhu teremdah berada diantara pukul 1 sampai 4 pagi. Pada siang hari suhu tubuh meningkat dan mencapai maximum pada pukul6 sore, lalu menurun kembali sampe pagi hari. Pola suhu ini tidak mengalami perubahan pada individu yang bekerja di malam hari dan tidur di siang hari.  Dibutuhkan 1 sampai 3 minggu untuk terjadinya pembalikan siklus. Secara umum, irama suhu sircadia tidak berubah seiring usia.
e.    Stres
Stres fisik maupun emosianal meningkatkan suhu tubuh melali stimulasi hormonal dan syaraf. Perubahan fisiologis ini meningkatkan metabolisme, yang akan meningkatkan produksi panas. Klien yang gelisah akan memiliki suhu normal yang lebih tinggi.
f.    Lingkungan
Lingkungan mempengaruhi suhu tubuh. Tanpa mekanisme kompensasi yang tepat, suhu tubuh manusia akan berubah mengikuti suhu lingkungan. Suhu lingkungan lebih berpengaruh terhadap anak-anak dan dewasa tua karena mekanisme regulasi suhu mereka yang kurang efisien.
g.    Perubahan suhu
Perubahan suhu tubuh di luar kisaran normal akan mempengaruhi titik pengaturan hypotalamus. Perubahan ini berhubungan dengan produksi panas berlebihan, kehilangan panas berlebihan, produksi panas minimal, kehilangan panas minimal, atau kombinasi hal di atas. Sifat perubahan akan mempengaruhi jenis masalah klinis yang dialami klien.
5.    Pengukuran suhu tubuh
Suhu tubuh rata-rata orang dewasa melalui oral adalah 37°c, rektal 35,7°c, dan aksila 36,7°sc. Pusat pengukuran suhu tubuh adalah hipotalamus, dalam susunan saraf pusat yang terletak di bawah otak. Hipotalamus mempunyai peranan penting sebagai pengaturan suhu.

Menentukan Tempat untuk Mengukur Suhu :
a.    Suhu mulut/oral  merupakan suhu tubuh inti tubuh. Tidak dilakukan pada pasien pingsan, bernapas dengan mulut, dengan terapi oksigen, dan sedang makan /minum (tunggu 30 menit untuk memberi waktu jaringan kembali kesuhu normal.
b.    Suhu aksila. Dilakukan jika pengambilan suhu mulut dan rektal tidak mungkin dilakkukan karena merupakan kontraindikasi. Metode tersebut adalah metode yang paling tidak akurat karena kondisi ketiak mudah di pengaruhi oleh suhu lingkungan.
c.    Suhu rektal .lebih akurat dari suhu mulut. Tidak dilakukan pada pasien diare, kanker anus, atau sakit jantung.

Pengukuran Suhu Tubuh :
Alat dan Bahan :
Siapkan alat di atas troli atau baki yang terdiri atas :
1)    Termometer  yang sesuai dengan kondisi pasien .
2)    Botol pencuci termometer : berisi larutan Lysol, sabun dan air biasa
3)    Tissu
4)    Gel / pelumas bila perlu
5)    Sarung tangan
6)    Bengkok/plastik
7)    Pensil dan buku tulis

Mengukur Suhu Oral
Prosedur :
a.    Cuci tangan untuk menjaga kebersihan kulit
b.    Jelaskan pada pasien tentang kepentingannya mengukur suhu dan bagaimana prosedur tersebut akan dilakukan.
c.    Bersihkan termometer dari bawah ke atas dan pegang termometer di bagian ujung atas
d.    Turunkan batas angka pada termometer hingga air raksa menunjukan pada angka 35°c dengan cara mengoyang-goyangkan termometer (posisi termometer saat membaca angka adalah sejajar dengan mata) untuk termometer digital, hidupkan termometer sesuai dengan jenisnya. Misalnya dengan mengeluarkan termometer dari sarungnya atau menekan tombol khusus.
e.    Persiapkan posisi yang nyaman pada pasien, duduk atau terlentang.
f.    Mintalah pasien untuk membuka mulut dan dengan pelahan letakan termometer dalam kantong sublingual (di bawah lidah) dari arah lateral ke tengah rahang bawah
g.    Mintalah pasien untuk menahan termometer dengan mengatupkan bibirnya bukan dengan gigi.
h.    Biarkan termometer dalam mulut selama 2-8 menit
i.    Lepas termometer dan bersihkan menggunakan tissu, baca termometer sejajar dengan mata.
j.    Untuk termometer air raksa, terunkan air raksa pada termometer sampai batas minimal. Bersihkan termometer sesuai denga jenis termometer.
k.    Cuci termometer dengan air sabun, bilas engan air dingin, keringkan serta letakan kembali pada tempatnya.
l.    Cuci tangan dan catat hasilnya.

Mengukur Suhu Rektal
Prosedur :
1)    Cuci tangan untuk menjaga kebersihan kulit
2)    Jelaskan pada pasien tentang kepentingannya mengukur suhu dan bagaimana prosedur tersebut akan dilakukan.
3)    Bersihkan termometer dari bawah ke atas dan pegang termometer di bagian ujung atas
4)    Turunkan batas angka pada termometer hingga air raksa menunjukan pada angka 35°c dengan cara mengoyang-goyangkan termometer (posisi termometer saat membaca angka adalah sejajar dengan mata) untuk termometer digital, hidupkan termometer sesuain dengan jenisnya. Misalnya dengan mengeluarkan termometer dari sarungnya atau menekan tombol khusus.
5)    Tutup gorden sekitar tempat tidur dan tutup pintu rungan. Jaga agar bagian tubuh atas dan ekstermitas bawah pasien tertutup
6)    Berikan gel pada ujung termometer
7)    Bantu pasien melakukan posisi sims dengan kaki sebelah atas fleksi, sebelah bawah lurus. Anak – anak boleh tengkurap.
8)    Dengan tangan tidak dominan tinggikan bokong pasien untuk memanjakan anus. Minta pasien untuk menarik napas dalam dan relaksasi. Kemudian masukkan termometer ke anus :
–    1-2 cm untuk anak-anak
–    3-5 cm untuk dewasa
–    Jika termometer terasa sulit, jangan dipaksa
9)    Pegang termometer hingga 2-4 menit
10)    Angkat termometer dengan hati-hati dan bersihkan menggunakan tissu
11)    Bersihkan area anal pasien untuk menghilangkan pelumas/fases.
12)    Bantu pasien keposisi semula dan rapikan pakaiannya
13)    Untuk termometer air raksa, terunkan air raksa pada termometer sampai batas minimal. Bersihkan termometer sesuai denga jenis termometer.
14)    Cuci termometer dengan air sabun, bilas engan air dingin, keringkan serta letakan kembali pada tempatnya.
15)    Cuci tangan dan catatat hasilnya.

    Mengukur Suhu Aksila
Prosedur :
1)    Cuci tangan untuk menjaga kebersihan kulit
2)    Jelaskan pada pasien tentang kepentingannya mengukur suhu dan bagaimana prosedur tersebut akan dilakukan.
3)    Bersihkan termometer dari bawah ke atas dan pegang termometer di bagian ujung atas
4)    Turunkan batas angka pada termometer hingga air raksa menunjukan pada angka 35°c dengan cara mengoyang-goyang termometer (posisi termometer saat membaca angka adalah sejajar dengan mata) untuk termometer digital, hidupkan termometer sesuain dengan jenisnya. Misalnya dengan mengeluarkan termometer dari sarungnya atau menekan tombol khusus.
5)    Tutup gorden sekitar tempat tidur dan tutup pintu rungan.
6)    Atur posisi yang nyaman pada pasien, duduk supinasi atau terlentang. Lepaskan pakaian atau baju dari bahu dan tangan pasien dan bersihkan daerah aksila.
7)    Masukan termometer ke tengah aksila pasien, turunkan tangan diatas termometer dan letakan lengan bawah menyilangkan di atas dada.
8)    Tahan termometer pada tempatnya selama 5-10 menit.
9)     Lepakan termomeret dan bantu pasien keposisi semula dan rapikan pakainannya
10)    Untuk termometer air raksa, terunkan air raksa pada termometer sampai batas minimal. Bersihkan termometer sesuai denga jenis termometer.
11)    Cuci termometer dengan air sabun, bilas engan air dingin, keringkan serta letakan kembali pada tempatnya.
12)    Cuci tangan dan catatat hasilnya.

6.    Mekanisme Terjadinya Demam
Mekanisme demam di mulai dengan timbulnya reaksi tubuh terbadap pirogen. Pada mekanisme ini bakteri atau pecahan jaringan akan di fagositosis oleh leukosit darah, makrofak jaringan dan limfosit pembunuh bergranula besar. Seluruh sel ini selanjutnya mencerna hasil pemecahan bakteri dan melepaskan zat interleukin-1 kedalam cairan tubuh, yang disebut juga zat pirogen leukosit atau pirogen endogen. Interleukin-1 ini ketika sampai di hipotalamus akan menimbulkan demam dengan cara meningkatkan temperature tubuh dalam waktu 8-10 menit. Interleukin-1 juga menginduksi pembentukan prostaglandin, terutama prostaglandin E2, atau zat yang mirip dengan zat ini yang selanjutnya bekerja di hipotalamus untuk membangkitkan reaksi demam.
Pada saat terjadi demam, gejala klinis yang timbul bervariasi tergantung pada fase demam, meliputi fase awal, proses dan fase pemulihan.

Fase 1: awal (awitan dingin atau menggigil)
a.    Peningkatan denyut jantung
b.    Peningkatan laju dan kedalaman pernafasan
c.    Menginggil akibat tegangan dan kontraksi otot
d.    Kulit pucat dan dingin karena vasokontriksi
e.    Merasakan sensasi dingin
f.    Dasar kuku mengalami sianosis karena vasokontriksi
g.    Rambut kulit berdiri
h.    Pengeluaran keringat berlebih
i.    Peningkatan suhu tubuh
Fase II: proses demam
a.    Proses menginggil lenyap
b.    Kulit terasa hangat/panas
c.    Merasa tidak panas atau dingin
d.    Peningkatan nadi dan laju pernafasan
e.    Peningkatan rasa haus
f.    Dehidrasi ringan hingga berat
g.    Mengantuk, delirium, atau kejang akibat iritasi sel syaraf
h.    Lesi mulut herpetic
i.    Kehilangan nafsu makan (jika demam memanjang)
j.    Keletihan, kelemahan dan nyeri ringan pada otot akibat katabolisme protein
Fase III : Pemulihan
a.    Kulit tampak merah dan hangat
b.    Berkeringat
c.    Menginggil ringan
d.    Kemungkinan mengalami dehidrasi
7.    Penatalaksanaan Kelainan Suhu Tubuh (Hipotermi Dan Hipertermi)
a.    Hipotermi
Hipotermia adalah suhu inti tubuh yang di bawah batas normal. Kematian biasanya terjadi saat suhu tubuh turun hingga di bawah 34 ° C (93,2 ° F). Pada hipotermia berat, sleepiness atau bahkan koma mungkin terjadi, yang selanjutnya menekan aktivitas mekanisme kontrol panas dan mencegah menggigil.

Tanda Klinis Hipotermia
•    Menggigil hebat ( awalnya )
•    Merasa dingin dan kedinginan
•    Pucat, dingin, kulit seperti lilin
•    Hipotensi
•    Haluaran urine menurun
•    Koordinasi otot berkurang
•    Disorientasi
•    Mengantuk yang mengarah ke koma

Penatalaksanaan Hipotermi
Prioritas terapi pada hipotermi adalah pencegahan penurunan suhu tubuh lebih lanjut. Melepaskan pakaian basah, menggantinya dengan yang kering, dan menyelimuti klien adalah intervensi keperawatan penting yang harus dilakukan. Pada kondisi darurat yang berada jauh dari lingkungan layanan kesehatan, klien diharuskan berbaring dibawah selimut disamping individu sehat dengan suhu tubuh hangat. Klien yang masih sadar harus meminum cairan panas seperti sup, serta menghindari alkohol dan minuman berkafein. Selain itu, tutupi kepala, tempatkan klien di dekat api atau ruang yang hangat, atau tempatkan lembaran panas di sisi tubuh ( kepala dan leher) yang paling cepat kehilangan panas.
a.    Hipertermi
Suhu tubuh diatas rentang normal disebut hipertermia, atau pireksia, atau (dalam istilah awam) demam. Demam yang sangat tinggi, (misalnya 41° C [105,8 °F]) disebut hiperpireksia. Klien yang demam disebut sedang febril.

Tanda Klinis Demam
•    Denyut jantung meningkat
•    Frekuensi dan kedalaman pernapasan meningkat
•    Menggigil
•    Pucat, kulit dingin (selama fase menggigil)
•    Kulit kemerahan dan hangat
•    Mengeluh merasa dingin (selama fase menggigil)
•    Bulu roma berdiri pada kulit (selama fase menggigil)

1)        Penatalaksanaan hipertermi dibagi 2 yaitu:
a)    Terapi Farmakologis
Antipiretik adalah obat penurun demam. Obat nonsteroid seperti asetaminofen, salisilat, indometasin, dan ketorolac menurunkan demam dengan meningkatkan kehilangan panas. Steroid menurunkan produksi demam dengan memodifikasi sistem imun dan menyembunyikan tanda infeksi. Steroid tidak digunakan untuk penanganan demam, namun steroid dapat menekan demam yang terjadi akibat pirogen.
b)    Terapi Non Farmakologi
Dilakukan dengan menggunakan metode pembuangan panas lewat evaporasi, konduksi, konveksi, atau radiasi. Mandi air hangat dengan spons, mandi dengan larutan air alkohol, pemberian bungkus es ke area aksila dan paha, dan kipas angin awalnya digunakan untuk menurunkan demam; tetapi hindari terapi ini karena dapat mengakibatkan menggigil. Tidak ada keuntungan yang mengungguli antipiretik. Selimut dingin dengan air yang bersirkulasi memungkinkan pembuangan panas konduktif. Ikuti instruksi pabrik untuk penggunaan selimut hipotermia ini karena adanya resiko iritasi kulit dan luka bakar beku. Selimut mandi yang diletakkan di antara klien dan selimut hipotermia serta pembungkusan ekstremitas distal (jari dan genital) menurunkan resiko cidera kulit dan jaringan akibat hipotermia. Membungkus ekstremitas klien dapat menurunkan insiden dan intensitas menggigil. Obat seperti meperidine atau butorphanol menurunkan menggigil
8.    ASKEP pada masalah gangguan suhu tubuh
a.    Pengkajian
–    Periksa tanda vital : suhu, nadi, respirasi, tekanan darah
–    Palpasi kulit : kulit hangat, kering
–    Observasi penampilan dan perilaku klien saat berbicara dan istirahat : gelisah, bingung, tampak merah.
–    Anamnesa dan pengukuran suhu tubuh. Pengkajian tentang penyebab hipertermi
–    Dapat dikaitkan dengan riwayat penyakit saat ini dan lampau. Seperti kita ketahui
–    Bahwa penyebab terjadinya demam ada 2 yaitu non infeksi seperti dehidrasi,
–    Aktifitas yang berlebihan, terpapar lingkungan yan sangat panas, reaksi paska
–    Imunisasi, reaksi obat – obatan, keracunan, luka bakar atau trauma pada otak. Dan
–    Penyebab yang kedua adalah karena infeksi seperti ISPA, ISK, meningitis,
–    Ensefalitis dan infeksi – infeksi lain.
–    Pengukuran suhu tubuh dapat dilakukan dengan alat atau tanpa alat. Tetapi
–    Pengukuran yang paling tepat adalah dengan menggunakan alat yaitu termometer.
–    Kita mengenal ada banyak tempat pengukuran suhu tubuh dengan termometer
–    Tetapi umumnya yang sering digunakan adalah rektal, oral dan aksila. Ada juga
–    Tempat pengukuran suhu yang lain yaitu membrana timpani, suhu yang dihasilkan
–    Sama dengan suhu rektal atau mendekati suhu inti.
–    Lihat riwayat medis: riwayat kesehatan dahulu
b.    Diagnose menurut nanda 2012-2014
1)    Resiko ketidakseimbangan suhu tubuh
Definisi : beresiko mengalami kegagalan mempertahankan suhu tubuh dalam kisaran normal
Faktor resiko :
–    Perubahan laju metabolisme
–    Dehidrasi
–    Pemajanan suhu lingkungan yang ekstrem
–    Usia ekstrem
–    Berat badan ekstrem
–    Penyakit yang mempengaruhi regulasi suhu
–    Tidak beraktivitas
–    Pakaian yang tidak sesuai untuk suhu lingkungan
–    Obat yang menyebabkan vasokontriksi
–    Obat yang menyebabkan vasodilatasi
–    Sedasi
–    Trauma yang mempengaruhi pengaturan suhu
–    Aktivitas yang berlebihan
2)    Hipertermia
Definisi : keadaan ketika individu mengalami atau beresiko mengalami kenaikan suhu tubuh lebih dari
Batasan karakteristik:
–    Konvulsi
–    Kulit kemerahan
–    Peningkatan suhu tubuh di atas kisaran normal
–    Kejang
–    Takikardia
–    Takipnea
–    Kulit terasa hangat

Faktor yang berhubungan
–    Anestesia
–    Penurunan perspirasi
–    Dehidrasi
–    Pemejanan lingkungan yang panas
–    Penyakit
–    Pemakaian pakaian yang tidak sesuai dengan suhu lingkungan
–    Peningkatan laju metabolism
–    Medikasi
–    Trauma
–    Aktivitas yang berlebihan
3)    Hipotermia
Definisi : suhu tubuh berada dibawah kisaran normal
Batasan karakteristik :
–    Suhu tubuh dibawah kisaran normal.
–    Kulit dingin
–    Dasar kuku sianotik
–    Hipertensi
–    Pucat
–    Piloereksi
–    Mengigil
–    Pengisian ulang kapiler lambat
–    Takikardi

Faktor yang berhubungan :
–    Penuaan
–    Konsumsi alcohol
–    Kerusakan hipotalamus
–    Penurunan kemampuan mengigil
–    Penurunan laju metabolisme
–    Penguapan/ evaporasi dari kulit di lingkungan yang dingin
–    Pemajanan lingkunagan yang dingin
–    Penyakit
–    Tidak beraktivitas
–    Pemakaian pakaian yang tidak adekuat
–    Malnutrisi, medikasi, trauma
4)    Termoregulasi tidak efektif
Definisi : Fluktuasi suhu di antara hipotermia dan hipertemia
Batas karakteristik :
–    Dasar kuku sianotik
–    Fluktuasi suhu tubuh diatas bawah kisaran  normal
–    Kulit kemerahan, hipertemi
–    Peningkatan suhu tubuh di atas kisaran normal
–    Peningkatan frekuensi pernapasan, sedikit memgigil
–    Pucat sedang, piloereksi
–    Penurunan suhu tubuh di bawah kisaran normal
–    Kejang, kulit dingin
–    Pengisian ulang kapiler yang terlambat
–    Takikardi

Faktor yang berhubungan
–    Usia yang ektrim
–    Situasi suhu lingkungan
–    Penyakit dan trauma

DAFTAR PUSTAKA

Poltekes Depkes Jakarta. (2009). Panduan Praktik Keperawatan Dasar Manusia 1. Jakarta: Salemba Medika
Potter & Perry. (2010). Fundamental Keperawatan buku  2 Edisi 7. Jakarta : Salemba Medika
Supatmi, Yulia. (2008). Panduan Praktek Keperawatan Kebutuhan Dasar Manusia. Yogyakarta: PT Citra Aji parama
Tamsuri, Anas. (2007). Tanda-Tanda Vita Suhu Tubuh. Jakarta : EGC